Sabtu, 26 Mei 2012
Hutan Pinus
Langkah kami menanjak menaiki hutan Pinus. Suasana sejuk langsung menyambut kami. Ku lihat raut wajahnya sumingrah melihat menjulangnya pohon-pohon pinus di hutan ini. Perut kami juga sudah terisi karena beberapa jam sebelumnya kami sukses melahap semangkok sop ayam.
Getah menetes di setiap pohon pinus. Aku sempat melihat beberapa sayatan baru sepertinya ibu-ibu yang kami temui sebelum kami mulai memasuki hutan ini telah memperbarui sadapannya.
Perjalanan ditutup dengan berhenti di sebuah warung yang sedikit ndelik di daerah Imogiri Barat yaitu Sambel Welut Pak Sabar. Wow, kami memesan 3 menu yaitu sambel welut, welut goreng dan ikan gabus goreng. Menu di sini ternyata tidak cocok dihabiskan hanya dua orang saja. banyak sekali. Lelah sirna ketika aku yakin kamu puas dan senang dengan perjalanan ini.
Rabu, 23 Mei 2012
Pagi yang Menjelma
Aku dan pagi
yang selalu bersinergi seperti hubungan matahari dengan waktu pagi. Pagi ini
aku sempat bertanya masihkah aku menjadi pagi mu? Pagi yang menyapa lewat
saluran mutakhir abad ini. Aku datang di depan rumahmu. Mata kita bertatapan
dan raut wajahmu berubah. Ya, aku masih ingat beberapa menit yang lalu aku
sempat menengok pesan singkatmu yang enggan aku balas. Mengapa? Tidak cukup
rasanya kata-kata sejumlah 140 karakter untuk menjelaskan permasalahan. Mata
kita harus bertemu dan mulut harus bicara.
Aku menjelma
menjadi seikat mawar kuning. Entah dari mana asalnya mawar tersebut. Tidaklah penting
yang penting mawar ini sudah berada di pelukanmu bersama dengan pagi mu. Jadi,
apakah pagi mu sudah mulai lengkap? Semoga.Sabtu, 14 April 2012
PKB#1: Yuhana Setianingrum
Ada beberapa
pertanyaan ketika Yuhana Setianingrum atau sering disapa Jo akan maju
pendadaran. Ada yang ingin saya ketahui dari Jo tentang pengalaman gonta-ganti
kampus, pengalaman apa yang didapat di kampus, tentang masa depan. Jo, pencinta
Jimi Hendrix yang sempat gagal menyandang gelar S, Sn. dan ST kini bersiap
menerima gelar sarjana, S.S., setelah merampungkan studinya di jurusan Sejarah
UGM.
Bisa ceritain Jo, tentang kegagalan kamu di dua kampus itu?
padahal jurusannya cukup OK.
Gimana ya Pil, mungkin
aku akan bilang itu takdir. Perkenalan dengan ISI (Institut Seni Indonesia) sebenarnya
karena mas ku memiliki pengaruh yg kuat, saran, masukan, lingkungan dan
teman-temannya, kemudian membentuk pola pikiranku untuk mau tidak mau jatuh
hati dengan ISI. Taukah apa yang ada pada benakku waktu itu? ISI itu keren dan nyeni! Di mataku ISI itu kampus
segalanya. Karena semua hal itulah maka aku memutuskan untuk memilih ISI
sebagai pelabuhan untuk menimba ilmu, aku pun ikut ujian ISI masuk jurusan
Media Rekam.
Kenapa
memilih Jurusan Media Rekam?
Karena itulah salah
satu jurusan yang tidak mengharuskan mahasiswanya mempunyai bakat khusus,
menggambar, atau apapun yang spesifik yang berbau seni murni dan aku sendiri
tidak punya bakat seni. Sebelum ujian masuk ISI, aku ikut semacam bimbingan
informal yg diadakan sama mahasiswa sana (ISI – pen).
Waktu itu Aku tidak sendirian tetapi
bersama Coco, teman SMA. Kami semua begitu antusias dan menggebu-gebu karena
kami benar-benar berharap bisa diterima yang merupakan impian kami selama ini.
Dia memilih jurusan yang lebih cadas, jurusan Seni Murni, lukis. Pada akhirnya
beberapa hari menjelang ujian, tiba-tiba perasaan antusias, semangat, dan
menggebu-gebuku untuk masuk ISI lenyap seketika pil. Jujur aku sedih banget
wktu itu Kenapa bisa seperti itu? kalo boleh aku jujur, aku bahkan sempat berfikir
gila buat menabrakkan diri di tembok atau masuk got supaya aku tidak bisa ikut ujian
dan dinyatakan tidak keterima di ISI. Benar-benar gila aku waktu itu. Apakah
itu juga karena doa org tuaku, kebetulan mereka sebenarnya tidak ingin aku
masuk ISI tapi pada akhirnya aku ikut ujian, dan dinyatakan diterima (bahkan pengumumnannya masih aku simpan).
Ketika pengumuman
keluar, aku tidak antusias sama sekali. Sekali lagi aku merasakan sedih luar
biasa. Sejak saat ujian itu hingga pada hari pengumuman aku terus berfikir
untuk menggambil atau tidak. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengambil
pilihan yang aku buat sendiri. Masalah dan kebingungan kemudian tak lantas
jauh-jauh. Ujian di ISI termasuk ujian paling akhir diantara kampus-kampus yang
lain. UGM yang tidak pernah aku fikirkan sebelumnya buat masuk ke sana udah
lewat.waktu itu tidak benar-benar tertarik untuk masuk sana. Walapun aku ikut
ujian masuk (UM UGM –pen) juga tapi buat aku itu hanya iseng.pilihan terakhir
hanya UII atau aku tdk kuliah sama sekali tahun itu, pilihan untuk tidak kuliah
sangat ‘diharamkan’ oleh bapak dengan berat hati aku masuk UII.
Di UII aku memilih jurusan
favorit keduaku, Arsitektur. Kuliahku di sana tidak berlangsung lama, hanya 3
minggu. Aku suka dengan jurusannya tapi tidak dengan kampusnya. Itulah kenapa
aku merasa tidak nyaman dan hanya kuliah dalam waktu yang singkat pula. Awal
mula aku berhenti dari UII karena aku sempat jatuh, itu pas ngambil tugas maketku.
Aku jatuh dan sempat amnesia. Nah, mulai saat itulah aku berniat mengambil kesempatan
untuk ‘keluar’ pelan-pelan dari UII setelah kejadian itu aku selalu bolos
kuliah. Kalo ditanya masku atau siapapun ketika mau pergi, pasti aku jawab mau
kuliah. Selama itu aku tidak pernah sampe jakal KM.14 dan klo ibu tanya
misal tentang tugas, aku selalu bilang “tugas apa bu?” aku selalu menjawab “tidak
ada tugas”. Saat itulah orang tuaku mulai curiga dan pada akhirnya orang tuaku aku
udah tidak kuliah, betapa kaget mereka. Mereka kecewa dan sedih bgt (trenyuh pil nek inget yg ini).
Alhamdulillah aku beruntung
aku punya orang tua yang pengertian, walapun anaknya ‘keparat’. Akhirnya mereka
ngerti dan memintaku supaya memperbaiki diri dan jujur bapakku sempat trauma kalo
aku gagal lagi dalam kuliahku kelak. Karena bagi bapakku dan mungkin orang tua
lainnya, pendidikan dan agama adalah nomer satu. Sejak itu akhirnya aku sadar kalau
aku tidak bisa seperti dulu lagi. Aku harus punya tujuan jelas dan tujuanku adalah
kuliah. Akhirnya aku ikut Bimbingan Belajar dan memutuskan untuk ikut Ujian
Masuk di UGM.
Cerita menarik ini tentang
temenku si Coco. Aku dah cerita di atas beda sm aku, dia benar-benar antusias
pas keterima jurusan lukis. (catatan: jurusan lukis salah satu jurusan paling
oke di ISI, tesnya pun susah, bisa dibayangkan bagamana oke anak ini. Gambar
buatannya realis. Karya gambarnya benar-benar keren. Tapi taukah kamu bahwa
setelah sekian lama (aku lupa semesternya) akhirnya dia memutuskan keluar juga
dari ISI dan aku kaget ketika dia memutuskan ingin ikut tes jadi tentara. Pada
akhirnya dia gagal tes jadi tentara dan memutuskan masuk AA YKPN. Dia udah
lulus dan sekarang kerja di Migas kayaknya. Aku benar-benar kaget pas dia cerita
sekaligus ngakak, Coco dan Aku tidak ada yang menyangka kemana kami kelak akan
berlabuh hingga pada akhirnya menemukan “pelabuhan” lain yang jauh berbeda dari
“pelabuhan” sebelumnya.
Ada benang merah
antara pengalamanku sama Coco tapi secara nalar menurutku ini adalah takdir pil.
Apa
hikmah dari kegagalan dari dua jurusan tersebut?
Seperti yang ibuku selalu
bilang, “semua sudah ada jalannya.tinggal gmn, kemana, dan seperti apa kita mau
menahkodainya”. Yang pasti dari pangalaman aku dan coco adalah kami sama-sama
jujur dng kondisi kami sendiri walaupun untuk beberapa hal cukup mengagetkan
dan menyakitkan org lain. Tapi sebagai balasannya, kami sudah mempersiapkan dan
punya tujuan lain yang jelas. Fenomena dan hikmah lain adalah belajar mungkin
bisa didapat di mana saja. Maksudku, misalnya aku tak perlu sekolah jurusan DKV
(Desain Komunikasi Visual) biar bisa mendesain. Sekarang semua orang bisa
melakukannya mungkin belajar dari teman ataupun otodidak (teknologi berperan
besar) ataupun aku juga tak perlu sekolah media rekam, untuk bisa bikin,
ngedit film, kita bisa belajar otodidak dgn bantuan teknologi.
Apa
sih yang kamu fikir ketika diterima sebagai mahasiswa jurusan Sejarah? Apa ini
bukan merupakan pilihan utamamu?
Yg jelas aku seneng
pil.satu tujuanku tercapai yaitu kuliah lagi.sejarah memang pilhan terakhirku,
waktu itu aku berharap diterima di jurusan Komunikasi buat aku keterima
sejarah pun tidak masalah yang terpenting waktu itu adalah aku bisa kuliah lagi
dan berharap bisa menebus kesalahanku kepada orang tua.
Perjalanan semester demi semester pasti membentuk pola berpikir.
kapan sih kamu mulai menyadari bahwa pola berfikir itu ada pada dirimu?
Sejak seminarlah yang mengajarkan
aku bagaimana benar-benar berfikir tidak hanya secara akademis tetapi kedekatan
‘emosional’ antara aku dan studi yg aku jalani dan keseriusanku untuk mulai
memikirkan jalan masa depan. Lanjut hingga pada akhirnya aku mengambil skripsi.
Sekarang ke skripsi, bisa ceritain skripsimu tentang apa sih?
apakah berniat untuk mencetaknya menjadi buku? sekarang ada print on demand yang bisa
mencetak buku satuan. Lumayankan buat kenang-kenangan untuk perpustakaan, kawan atau calon mertua.
Mumpung masih anget
abis didadar, aku akan cerita sedikit tentang skripsiku yang membahas tentang
perkembangan kreativitas desain iklan rokok. Di situ aku meneliti bentuk,
jenis, perubahan/transformasi kreativitas desain iklan rokok dari tahun 30
sampai 70-an. Ya, kira-kira hampir setengah abad. Selain itu aku juga mengkaji
unsur-unsur dalam iklan rokok yang dipengaruhi oleh rezim politik dan
modernisasi.secara garis besar seperti itu. oya print on demand itu
apa to pil? Blm kepikiran untuk mencetak, tapi kalau ada kesempatan kenapa
tidak? aku akan sangat senang. hihi berasa artis. Karena jujur ak pingin
berbagi ilmu atau info yg aku dapat dari penelitian skripsiku, begitu pula
sebaliknya, aku ingin banyak belajar dari orang lain.
Setelah lulus mau kemana nih? Jobfair? KUA? kira-kira rencana ke
depanmu seperti apa?
Masih abu-abu, banyak
rekomendasi yang mungkin bisa dicoba, di bidang periklanan, jurnalistik,
penerbitan, perpustakaan, informatika (operator seluler), perusahaan rokok,
atau mungkin PNS hehe..tapi satu cita-citaku adalah aku punya toko coklat
kelak.
Cerita dikit, coklat
menjadi salah satu penghibur di masa-masa aku menjadi pengangguran setelah
keluar kuliah dari UII. aku jualan coklat kecil-kecilan berbekal resep dari
koran masak dan alhamdulillah laku. Ya, mungkin setelah ini aku akan mengambil
kelas cooking chocolate di Jakarta dan
kelak bisa punya toko coklat. Doakan kesampaian hehe….
Kamu berfikir akan menggunakan disiplin ilmu sejarah dalam dunia
kerja?
Sempat berfikir seperti
itu, khususnya di Perpusnas karena semua itu tidak lepas dari pengaruh
penelitianku yang mengharuskan mencari sumber ke sana. Senang sekali melihat
koleksi langka surat kabar tapi sekali lagi, aku belum punya gambaran hingga
saat ini mau kemana, yang pasti tujuanku pertama adalah jadi wanita mandiri, kerja,cari
uang, cari pengalaman, ilmu, dan tak lupa membantu orang tuaku, hingga saatnya
nanti aku pnya usaha sendiri yaitu toko coklat ketika aku sudah nikah
kelak.semoga semua tercapai dan berjalan sesuai rencana. Amin.
Dalam obrolan yang lalu tidak pernah menyinggung masalah S2,
apakah ada pikiran untuk lanjut ke S2?
Yup, benar.sbenarnya
tidak atau mungkin belum kepikiran untuk mlanjutkan kejenjang S2. Apalagi jujur
orientasiku skrg adalah bekerja untuk mencari uang. Tapi, jika ada kesempatan
kelak untuk belajar lagi, Aku mau dan ini sedikit terbesit dalam benakku ketika
beliau (Prof. Dr. Bambang Purwanto) mengatakan klo salah satu kajian dalam
tulisan skripsi jika dikaji lebih dalam dan spesifik, akan sangat menarik. Dan
beliau mengisyaratkan padaku untuk menulis lagi. Mungkin suatu saat nanti.
Persimpangan, sepertinya setelah ini semua teman-teman tercerai-berai
untuk menjelajahi kehidupan yang nyata. Yap, komentar kamu?
Sedih pastinya, lima
tahun bersama-sama bukanlah waktu yang singkat.tapi kembali lagi seperti hukum
alam,pasti semua itu akan terjadi. Insya Allah, aku sudah siap dengan semua
itu. Beruntunglah kita hidup di era socmed
di mana komunikasi dapat terjalin dengan sangat mudah dan murah yang aku
harapkan komunikasi dan silaturahmi kita semua tetap terjaga, tidak terputus,
dan berharap kita semua, sejarah 2007, bisa sukses dengan cerita masing-masing
di dalamnya. Amin.
bonus: foto yang diabadikan ketika awal kuliah tahun 2007.
Minggu, 08 April 2012
Notebook Baru!
Yuhu...ini merupakan notebook dengan material kertas spektra warna pink dengan hvs warna putih. Pada cover saya tambahi kancing sebagai pengunci. Notebook ini dibuat di Lir dalam Club Making Book. Kebetulan Nana yang juga adik dari Mbak Mira pulang dari Bandung. Sebelumnya Nana mengikuti workshop "book binding" oleh Vitarlenology. Infomasi yang dibawa oleh Nana menambah pengetahuan seputar book binding.
*notebook ini sudah diadopsi
Sabtu, 07 April 2012
Sabtu: Pure Saturday
| foto lawas Pure Saturday (Bandung, Agustus 2008) |
Setelah lawakan dari teman saya yang bertindak sebagai MC
malam itu, Pure Saturday naik ke panggung. Iyo atau Sat N.B menjadi perhatian
saya, rambutnya makin tipis berbeda dengan beberapa tahun yang lalu ketika saya
melihat Pure Saturday.
Bulan purnama menyinari panggung dibantu oleh lampu sokle yang ada di tengah panggung. Dalam
satu momen, pada lagu “Di Bangku Taman”;
Cahaya lampu kuning
bersama mu,
Terduduk tenang di
Bangku Taman,
Mata terpejam menahan
rasa kantuk yang dalam,
Entah kenapa lirik pada lagu ini sangat sesuai dengan suasana
pada malam itu. Ketika bulan purnama dan cahaya lampu terang di panggung.
Pertunjukan juga di gelar pada hari Sabtu. Pas. Semua mulut menganga berusaha
mengikuti sing along. Kaki-kaki
menghentak tanah mengikuti hentakan drum.
Melompat, melepaskan malam long weekend sejenak melambungkan permasalahan ke
dalam crowd.
Moshing, selagi masih bisa dengan gaya
apapun. Duduk sembari menyulut rokok sebagai penawar suasana Jogja yang siang
tadi diguyur hujan. Bisa juga berbagi Santoso kepada kawan dekat tanpa
melewatkan setiap lagu-lagu mereka.
Saya pikir pertunjukan akan digelar di dalam indoor ternyata
di luar, beruntung tidak turun hujan. Pesimis ketika melihat panggung yang
terlalu rendah namun beruntung tidak ada barikade. Tidak ada tenda artist yang
dijaga oleh panitia (sepengetahuan saya, mohon dikoreksi). Sederhana.
Tumplek Blek. Ya, semua kawan sebagian besar ke acara ini.
entah saya lupa berapa jumlah kawan saya baik yang kenal dekat atau hanya kenal
biasa. Setiap berjalan saya lemparkan pandangan ada saja terselip di antara
kerumunan yang merupakan mutual friends
dari kawan saya. Karena gratis? mungkin juga. Tidak salah menghabiskan malam
dengan hadir ke acara gratisan.
Kamis, 15 Maret 2012
Derby Mataram “Dobel Anti Klimaks?”
Suasana atmosfir yang terasa
dikalangan pendukung PSIM makin memanas. Hilangnya nyawa dalam insiden
penusukan yang terjadi beberapa jam usai pertandingan PSIM menjamu Persiku
Kudus menyisakan spekulasi yang beredar. Bagaimana dengan kondisi di dalam dan
luar stadion ketika PSIM menjamu Persis Solo besok Jumat (16/3) di stadion
Mandala Krida. Terlebih dengan dikeluarkannya larangan dari Kepolisian serta
Panpel PSIM pada Rabu (14/3) tentang larangan menonton dengan menggunakan
atribut yang mewakili kelompok suporter PSIM (Brajamusti dan Maident)
menyiratkan maksud tertentu.
Dobel Anti Klimaks
Menjamu Persis Solo yang juga
merupakan Derby Mataram sepertinya kurang greget. Persis Solo yang datang ke
Mandala Krida bukanlah Persis Solo yang didukung oleh Pasoepati. Adalah tim
yang terjun ke PT LPIS merupakan tim yang didukung oleh Pasoepati. Tapi, tidak
menuntut kemungkinan para pendukung Persis Solo akan datang tanpa atribut dan
sembunyi-sembunyi.
Jika PSIM menang dengan atas
Persis Solo sudah pasti akan memantapkan posisi PSIM di papan atas kompetisi
Divisi Utama 2011/2012. Namun kemenangan itu sepertinya terasa kurang mantap
karena tidak mampu mengalahkan Persis Solo versi yang didukung oleh Pasoepati,
pasalnya dalam tim Persis Solo tersebut terdapat pemain-pemain yang hebat yaitu
Javier Rocha dan mantan penyerang Real Mataram Fernando Soler. Memang dalam hal
ini terdapat tendensi emosional dari pendukung PSIM. Mencari pembuktian siapa
tim yang paling kuat dalam pertandingan yang bertajuk Derby Mataram adalah hal
penting.
Anti Klimaks kedua adalah suasana
yang kurang kondusif pasca insiden hari Selasa kemarin. Di tengah para pemain
PSIM membutuhkan dukungan, kita (pendukung PSIM –pen) sedang berusaha mencari
siapa yang benar dan siapa yang salah. Pertikaian dan gesekan dalam stadion seharusnya
segera diakhiri. Jika tak kunjung usai, mungkin akan terkembang senyuman bahkan
tawa dari pihak-pihak yang menyukai pertikaian antar sesama pendukung PSIM ini.
Semoga tidak ada lagi insiden
pertikaian baik besar atau kecil terlebih sampai nyawa melayang. Jangan sampai
semacam insiden seperti 12 Februari 2010 kembali terulang atau sewaktu
pertikaian ketika antara sesama pendukung PSIM pecah dan berakibat sanksi dari
Komdis PSSI.
Aparat yang bertugas sepantasnya
menjadi filter dan pengaman sehingga tidak ada lagi senjata tajam bisa masuk ke
dalam stadion. Nyawa kuwi kog dadi ra ono
regone.
Teks: Dimaz Maulana
(BawahSkorMandala)
Langganan:
Entri (Atom)




